Jumat, Juli 23, 2010

Mesin Honda Revo AT Responsif & Tangguh


Sempat terpikir motor matik bakal loyo ketika menemui jalur lintas luar kota. Soalnya dari spesifikasi mesin saja jelas tidak bakal mampu menerima medan yang berat.

Namun, tantangan itu coba ditepis oleh Honda Revo Techno AT yang dibanderol Rp 15, 8 juta on th road Jakarta.

Bebek yang menggunakan CV-matik itu jelas berhasil meraup satu demi satu etape dan nyatanya berhasil melampaui medan Bandung menuju Tegal, Jawa Tengah. Jarak yang ditempuh sejauh 220 kilometer.

"Saya obyektif saja, motornya enak banget. Untuk handlingnya enak banget. Pokoknya beda lah dengan matik lainnya," kata member Honda Revo Club Jakarta Adam Nugroho, Rabu 21/7/2010).

Selanjutnya Adam mengatakan mesin CV-matik yang tersemat pada Revo terbaru ini sangat responsif, berbeda dengan mesin matik lainnya.

"Kalau matik lain ketika gas diputar masih ada jeda sedikit, tapi kala Revo matik ini ngak. Karakter mesinnya beda dan langsung responsif," ucapnya.

Daya maksimum mesin Revo matik sebesar 7,68 PS pada 8.000 rpm sementara torsi yang dapat dibuat Revo matik sebesar 0,81 kgf.m pada 5.000 rpm.

Jarak sumbu roda motor Revo sepanjang 1.252 mm dengan groud clerance 136 mm, sementara berat kosong Revo Techno AT seberat 107 kg. Kondisi itu ternyata membuat Revo matik tetap enak diajak meliuk-liuk di jalan.

Hal itu tidak terbantahkan ketika Adam menyicipinya ketika dalam perjalanan. Tipe suspensi belakang Revo Techno AT menggunakan lengan ayun dengan shockbreaker ganda, dan bagian depan menggunakan teleskopik.

"Waktu di turunan dan langsung tanjakan gue kira ini motor enggak bisa direbahin. Tapi nyatanya bisa, motor tetap enak diajak bermanuver. Untuk miring-miring juga enak, masih nyaman juga meski kecepatan tinggi. Karakter suspensinya beda dengan matik lain. Ini bisa menahan gejala membuang berlebihan," yakin Adam yang ingin
segera membeli satu unit Revo Techno AT.

Sementara untuk konsep bodi yang diusung Honda Revo, Adam mengisyaratkan motor ini cocok juga untuk diajak gaul karena desain yang diusung Revo sungguh up to date.

"Kalau untuk desain bodi enggak malu-maluin lah. Cocok untuk diajak
nongkrong," tandas pria yang bekerja sebagai Marketing di salah satu perusahaan swasta itu.

Dari apa yang dirasakan Adam, ketahanan Honda Revo Techno AT sangat luar biasa, sehingga pantas untuk dipertemukan dengan merek lainnya di pasar roda dua RI

Kamis, Juli 22, 2010

Turing Honda Innovation



PT Astra Honda Motor (AHM) tidak berhenti berinovasi. Setelah meluncurkan motor matik kelas premium PCX serta Honda Scoopy untuk menjangkau pasar matik bagi anak muda yang gaul di tanah air, bulan ini AHM yang basisnya ada di Jepang itu merilis sepeda motor bebek yang berpadu dengan kepraktisan motor matik, yaitu Honda Revo AT.

Sepeda motor jenis 4 tak terbaru ini sendiri telah mengaplikasikan teknologi Continous Variable Automatic (CV matic) dalam bobot mesinnya yang berkapasitas 110cc. Senjata lain yang ada pada Honda Revo AT adalah sistem pendinginan ganda dimana ruang mesin dengan oli sama seperti yang ada pada mesin motor bebek umumnya.

Dalam prosesi peluncurannya yang berlangsung meriah di Planet Hollywood Jakarta pada Selasa (20/7), Julius Aslan, Marketing Director AHM mengatakan kalau sepeda motor Honda Revo AT sangat cocok untuk pengguna yang berkendara jauh karena posisi lubang untuk pendinginan udaranya menghadap ke atas. "Dengan sistem pendingin seperti yang ada di Honda Revo AT ini resiko masuknya air ke dalam mesin jika melintasi jalanan banjir", tukas Julius.

Keunggulan lainnya dalam Honda Revo AT adalah aplikasi teknologi sistem Fuel Injection generasi ketiga yang telah ditambah dengan sensor O2 dan catalytic converter. Sehingga kerja mesin lebih optimal dan tahan lama. Keuntungannya sistem injeksi ini akan menghemat bahan bakar dan tentunya emisi gas buang semakin ditekan karena telah disesuaikan dengan standar Euro 2.

"Banyak masukan yang datang ke kami tentang gabungan motor matic dengan motor bebek biasa, tantangan ini kami jawab dengan produk sepeda motor bebek matik Honda Revo AT", kata Yusuke Hori, Presiden Direktur PT AHM dalam sambutannya siang itu.

Dalam prosesi peluncurannya di Jakarta, Johannes Lohman, Executive Vice President Director PT. AHM juga melepas 10 peserta touring menggunakan Honda REVO AT yang akan melintasi track penuh liku dari Jakarta hingga ke Bali.

AHM sendiri membanderol harga Honda Revo AT dengan 1 (satu) tipe Cast Wheel (CW) serta tiga pilihan warna seperti techno black, techno violet, dan techno red dengan harga yang cukup terjangkau Rp 15,8 Juta (on the road DKI Jakarta). Sudah siap dengan era baru motor matik? Honda Revo AT bisa jadi pilihan yang seru dalam berkendara tentunya.(wal)

Minggu, Juli 18, 2010

Honda Revo Matik Siap Meluncur...

Desain body tidak jauh berbeda dengan Honda Absolute Revo, karena memang berbasis Honda Wave 110i. Maret mendatang rencananya akan diluncurkan oleh AP Honda Thailand seharga 44.900 baht atau sekitar Rp 12,5 juta. Di Thailand diberi nama Honda Wave 110i AT, kode ini menunjukkan kapasitas mesin 110 cc, sistem injeksi dan Automatic Transmission, menggunakan transmisi CV Matic.

CV Matic menawarkan kemudahan berkendara dengan tetap memposisikan rem depan pada tangan kanan dan rem belakang pada kaki kanan. Penerus daya dari mesin pun tetap menggunakan rantai seperti bebek pada umumnya, dengan transmisi otomatis memakai belt dengan jarak roda gigi drive dan driven yang berdekatan untuk meningkatkan efisiensi tenaga. Dengan model transmisi seperti ini, posisi mesin tidak berubah secara signifikan. Pola berkendara juga tidak berubah sehingga tetap lincah menembus jalan perkotaan yang macet.

Setelah peluncuran di Thailand, dapat dipastikan pula bebek matik ini mengisi pasar Vietnam dan negara Asia Tenggara lain. AHM pun kabarnya akan meramaikan pasar motor Indonesia kemungkinan pada semester 2 tahun 2010 ini. Bila di Indonesia, bolehlah dinamai Revo Matik ;)

perbedaan Wave 110i & Wave 110i AT :roll:

Ini saat mesinnya dibedah :)

Kamis, Juli 08, 2010

Anak di Bawah Umur Dilarang Naik Motor


Kepolisian RI mencatat penggunaan motor oleh anak di bawah umur terus meningkat. Kasubdit Pendidikan Masyarakat Direktorat Lalu Lintas Markas Besar Kepolisian RI, Ajun Komisari Besar Polisi Subono, meminta masyarakat dan pendidik membantu mencegah penggunaan sepeda motor oleh anak di bawah umur. “Mereka secara fisik dan psikologis belum siap mengendarai motor,” kata Subono pada acara Road Safety Goes To School di SDN 05 Tebet Barat, Selasa (23/9).

Subono mengatakan, idealnya seseorang boleh mengendarai sepeda motor setelah berusia 16 tahun. Ia menjelaskan, peraturan lalu lintas juga menyatakan usia minimal pemilik surat izin mengemudi (SIM) C adalah 16 tahun.

Yang terjadi selama ini, kata Subono, banyak orangtua membiarkan anaknya bersepeda motor tanpa pengawasan. Polri akan mengadakan kerja sama dengan dinas pendidikan dan sekolah untuk mengatasi masalah tersebut. “Saya berharap guru bisa ikut menghimbau siswanya patuh pada peraturan lalu lintas,” kata Subono.

Dalam acara sosialisasi keselamatan berkendara yang diadakan Polri dan PT Shell Indonesia tersebut siswa kelas 5 dan kelas 6 SD Negeri 05 Tebet juga diajarkan soal menyeberang jalan dengan aman, rambu dan tata tertib lalu lintas, serta jenis-jenis pelanggaran lalu lintas. Selain mengajarkan anak soal peraturan lalu lintas, Subono juga berharap kegiatan sosialisasi di sekolah bisa mendorong anak menjadi agen perubahan budaya berlalu lintas. “Setidaknya anak-anak bisa mengingatkan orang tuanya soal ketertiban dan keselamatan di jalan,” ujarnya.

Senin, Juli 05, 2010

Agar Body Motor Tetap Kinclong

Sering kali kita terlena dalam merawat motor, sehingga lalai akan cat kendaraan tersebut. Apalagi motor tersebut sering diparkir di tempat yang terkena matahari langsung (terik) yang menyebabkan warna bodi motor terihat kusam. Berikut, beberapa tips untuk merawat warna cat motor Kesayangan anda :

1. Hindari parkir di bawah terik matahari
Saat memarkitr motor di tempat parkir terbuka, hindari panas matahari langsung dan angin. Debu yang bercampur panas terik matahari dapat membuat rusak cat lapisan pelindung cat motor anda, sehingga warna menjadi kusam.

2. Hindari Air Hujan (jangan terlalu sering terkena air hujan)
Tingkat keasaman air hujan sangat tinggi, sehingga dapat merusak warna bodi motor anda menjadi kusam. Bahkan bagian bodi motor dari logam dapat termakan korosi. Apabila terlanjur terkena air hujan, segera cuci kendaraan anda dengan air bersih.

3. Hindari Air garam
Air laut berikut uapnya dapat mengakibatkan bagian bodi terkena karat dan memperpendek umur motor anda.

4. Hindari Mencuci motor dengan sabun colek.
Sabun colek mengandung zat yang punya sifat kasar yang dapat menggores cat di permukaan bodi motor. Kalu tetap memakai sabun cream, gunakan sabun dan spons lembut/lap chamois agar warna motor tetap awet.

5. Jangan terlalu sering menggunakan zat kimia atau cairan untuk mengkilapkan warna cat Zat tersebut akan mengikis lapisan cat bodi motor sehingga warna akan menjadi kusam dan cat menjadi pudar.

Selasa, Juni 22, 2010

Batas Kecepatan Maksimum Tiap Gear pada Honda Revo

Setiap sepeda motor tentu punya batas kecepatan maksimum pada setiap gear nya. Pada posting ini, saya mau men-sharing kan batas kecepatan maksimum tiap gear pada Honda Revo bermesin 97,1cc. Sebenarnya di speedometer telah ditunjukkan batas-batasnya. Namun itu bukan batasan yang sebenarnya. Jika melewati batas kecepatan maksimum setiap gear, resikonya dapat merusak mesin karena putaran mesin terlalu tinggi. Berikut batas kecepatan teratas yang dianjurkan pabrik untuk sepeda motor Honda Revo:

* gear 1 – kecepatan maksimumnya 25km/jam
* gear 2 – kecepatan maksimumnya 50km/jam
* gear 3 – kecepatan maksimumnya 70km/jam
* gear 4 – kecepatan maksimum tergantung top speed. Untuk Honda Revo, umumnya mencapai 100km/jam

Sedangkan data mengenai batas sesungguhnya (batas kecepatan tiap gear sebelum mesin benar-benar jebol) yang saya dapat dari percobaan seorang teman yaitu:

* gear 1 – kecepatan maksimum 40-45km/jam
* gear 2 – kecepatan maksimum 65-70km/jam
* gear 3 – kecepatan maksimum 85 -90km/jam

Jika melewati batas di atas, mesin Honda Revo kemungkinan besar akan rusak/ jebol. Jadi, sebaiknya jangan melewati batas yang telah saya tuliskan di atas.

Sirine dan Strobo

Jumat pagi, awal Februari
2008, hujan nan lebat sungguh di luar dugaan. Namun yang pasti, ruas
jalan Ciputat-Pondok Indah-Arteri, Jakarta Selatan, tetap "normal"
alias menjadi jalur supermacet.

Semeter demi semeter, laju motorku bergerak perlahan, kendati
tersingkir di jalur paling kiri ruas jalan raya. Yang ironisnya—bila
tak hati-hati—bakal nyemplung ke lobang got atau galian yang khilaf ditutup kembali.

Samar-samar terdengar raungan bunyi sirene dan kilatan lampu strobo tak
jauh dari arah depan kuda besi Tiger yang aku tunggangi. Sebuah mobil
ambulans terlihat sama sekali tak bisa bergerak maju. Mobil-mobil yang
berada di depannya pun bergeming tak peduli untuk menyingkir sejenak.
Parahnya, situasi sejenis bukan barang baru di kawasan ini. Acap kali
ambulans sulit lewat tatkala mereka ‘terpaksa’ mesti melalui jalur
tersebut.

Sejenak kemudian aku berhasil mendekati ambulans, sambil melirik pasien
di dalamnya yang terbaring dengan berbagai alat canggih menempel di
badan dan bagian wajah. Nyaris sedetik setelah itu, jendela depan mobil
dibuka, dan sang supir berteriak ke arahku. “Mas! Tolong dong bukain jalan saya. Pasien saya gawat nih!!!”

”Siap, Pak!”

Motorku segera melaju ke bagian depan ambulans. Berupaya sebisanya membelah kemacetan dengan sidebox yang bahenol di kiri kanan kuda besiku.

Ternyata, memang susah dan amat sulit. Hanya bisa maju meter demi
meter, amat perlahan. Ambulans pun menempel rapat mengikuti laju
motorku. Aku tak bisa berbuat apa-apa lebih jauh lagi. Saat itu, hampir
putus asa rasanya.

“Pak, susah! Jalanan macet banget.”

”Nyalain aja sirenenya, Mas. Sirene saya kayaknya masalah nih!” teriak
sang supir. Memang, sirene ambulans itu seolah berbunyi setengah hati.
Serak. Karena hujan, mungkin.

Aku tercenung. Sekelebat tebersit ‘zaman jahiliyah’, di saat sirene kesayanganku masih nemplok.
Banyak sudah ambulans yang aku kawal membelah kemacetan Jalan Arteri
dengan mudah. Ironis memang, benda “haram” itu pernah beberapa kali
menyelamatkan nyawa orang, meski secara tidak langsung.

“Mas! Nyalain sirenenya!!!” si supir berteriak ke arahku lewat kaca penumpang.

“Gak ada. Gak punya sirene, Pak!” ujarku, melambaikan tangan memberi tahu bahwa tak ada sirene lagi di motorku.

Terus terang, saat itu, ada penyesalan. Kalau saja benda “haram” itu
ada seperti dulu. Tentu pada momentum darurat seperti ini, barang itu
bisa menjadi solusi.

“Pak, ikutin saya...” aku berteriak lagi.

Bercampur sedikit emosi karena ketidakpedulian orang-orang di jalan
terhadap mobil ambulans tadi, aku kembali berupaya keras menerobos
kemacetan. Kali ini, aku mulai ‘arogan’. Bermodalkan klakson steble,
bergaya zig-zag, aku memaksa pengguna jalan lain untuk memberikan jalan
buat ambulans tadi. Sang supir pun tak ketinggalan. Dengan bunyi sirene
yang sudah kembang kempis, dia menempel terus di belakangku.

Satu kesempatan, akhirnya aku membuka jalur supaya ambulans mengambil
arah lawan ruas jalan. Saat itu pula, ambulans melesat kabur
secepatnya. Menuju rumah sakit, tentunya. Kini motor aku arahkan ke
sisi kiri, ke arah kemacetan yang masih mengular.

Dari balik balack lava yang aku pakai, senyum pahit terbentuk di
bibirku. Memang ada benarnya, barang “haram” ada manfaatnya bila
difungsikan dengan benar. Tapi, pun terbukti, tanpa barang “haram” tadi
aku tetap bisa membantu sesama.

Hanya berselang dua pekan kemudian, seorang pengendara Macan Besi pun
mengalami hal yang sama. Kejadiannya di Jalan Gatot Subroto, tepatnya
di depan Planet Hollywood. Arus lalu lintas pada sekitar pukul 20.00-an
amat padat. Bergerak pun dijamin tersendat.

Di saat itulah, sebuah ambulans berwarna hijau daun dengan lambang tulisan MMC di bagian body
samping merayap putus asa. Mobil—yang membawa seorang penumpang yang
tengah terbaring dengan alat bantu pernapasan terpasang di mulut
dihiasi kelap-kelip lampu merah dan hijau dari sebuah mesin di
sampingnya—itu sama sekali tak bisa melaju lantaran mobil-mobil tak mau
minggir walau sejenak. Raungan sirene membuat semua kendaraan di lajur
itu bergeming, tak peduli.

Ketika itulah aku berinisiatif. Aku dekati mobil ambulans dari sisi
kiri, dan menunjuk ke arah depan ambulans, menanyakan apakah ambulans
butuh dibuka jalan, supaya dapat cepat melaju. Sang sopir spontan
mengangguk, diiringi kaca terbuka dari sisi penumpang di bagian depan.

“Tolong kami, Pak. Tolong bukakan jalan!”

Aku hanya membalas dengan acungan jempol.

Setika itu pula aku memencet tuas pemindah antara klakson biasa dan
klakson stebel di kuda besi kesayangan. Sial! Kendati tuas berpindah
arah, stebel sama sekali tak berbunyi. “Wah, rusak lagi nih...,”
umpatku dalam hati.

Tak kehilangan akal, aku kembalikan tuas ke arah klakson biasa dan
mulai beraksi. Kudekati mobil-mobil di depan ambulans sambil
membunyikan klakson serta tangan meminta mereka meminggirkan barang
sejenak, karena ambulans mau lewat. Satu… Dua... Tiga, lima, lebih dari
sepuluh kendaraan akhirnya mau berpaling ke sisi kiri, dan memberikan
jalan buat ambulans berlalu.

Kami—motor dan ambulans—naik ke flyover di atas kawasan
Mampang. Begitu turun, arus dari arah Kuningan menuju Jalan M.T.
Haryono terlihat amat padat. Maklum, di ruas itu, terjadi benturan dari
flyover menuju Pancoran, dan dari Kuningan memotong ke kanan langsung
masuk pintu Tol.

Sekali lagi aku berhasil menyapu barisan mobil di depanku. Dan ambulans
akhirnya berhasil bergerak cepat, menuju RS Medistra. Dari jarak
sekitar lima meter di belakang motorku, sopir ambulans tadi membunyikan
klaksonnya sambil melambaikan tangan, seolah berterima kasih.

Aah… Apa jadinya bila ambulans tadi terlambat sampai di rumah
sakit? Apa jadinya, bila di dalam ambulans tadi adalah ibuku? Istriku?
Anakku? Saudaraku?

Aku tersenyum bangga di dalam hati. Aku bisa membantu sesama walau tak
secara langsung. Aku bisa melakukan itu semua, tanpa harus melanggar
keyakinan dan kesadaran untuk tetap tidak menggunakan sirene dan
strobo. Dan aku bisa membuktikannya.

Bukti itu pun bisa jadi ‘seragam bersama’ di HTML. Bila memang niat
kesadaran ada, untuk menisbikan barang “haram” tadi dari komunitas
tercinta ini. (*Cerita
pertama di atas disadur dari penuturan seorang member HTML yang awalnya
pernah menggunakan sirene dan kini sudah “sadar” akan kekeliruannya.
Sedangkan cerita kedua dipaparkan seorang anggota HTML yang sama sekali
tidak pernah menggunakan sirene dan strobo sama sekali.)